Beranda | Artikel
Hadits Peristiwa Isra dan Mikraj
17 jam lalu

Hadits Peristiwa Isra dan Mikraj adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 17 Sya’ban 1447 H / 5 Februari 2026 M.

Kajian Islam Tentang Hadits Peristiwa Isra dan Mikraj

إِيتَانُ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ حَرَامٌ

“Menggauli istri pada duburnya adalah haram.” (HR. An-Nasa’i)

Hadits shahih ini menunjukkan keharaman tindakan tersebut. Para ulama bahkan menggolongkannya sebagai dosa besar. Pelakunya mendapatkan laknat, yang berarti dijauhkan dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits shahih lainnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

“Dilaknat orang yang menggauli istrinya pada duburnya.” (HR. Abu Dawud)

Salah satu tanda dosa besar adalah adanya laknat atau murka dari Allah, ancaman tidak masuk surga atau dimasukkan ke neraka, serta adanya hukuman had di dunia seperti potong tangan atau hukuman mati.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dan An-Nasa’i yang dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

“Allah tidak akan melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita pada duburnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Maksud dari “tidak melihat” adalah Allah tidak akan melihat dengan tatapan kasih sayang. Secara naluri dan fitrah, tindakan ini menjijikkan dan kotor, baik secara lahir maupun batin. Seorang muslim yang memiliki fitrah yang lurus dan terbiasa dengan kebersihan serta kehormatan tidak akan terbayang melakukan hal tersebut. Fenomena munculnya penyimpangan ini sering kali disebabkan oleh interaksi dengan budaya yang hanya memperturutkan hawa nafsu tanpa akal sehat.

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah menyatakan bahwa para ulama telah sepakat mengenai keharamannya. Hal ini merupakan pendapat empat madzhab serta mayoritas ulama salaf maupun khalaf.

Tindakan ini berbeda dengan seseorang yang ingin berhubungan badan dari arah belakang namun tetap dilakukan pada tempat peranakan. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma menceritakan bahwa dahulu orang-orang Yahudi di Madinah beranggapan jika seseorang menggauli istrinya dari arah belakang (pada tempat yang benar), anaknya akan lahir dalam keadaan juling. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menurunkan firman-Nya:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara apa saja yang kamu sukai.” (QS. Al-Baqarah[2]: 223)

Ayat ini menegaskan bahwa berhubungan dari arah mana saja diperbolehkan asalkan tetap pada tempat peranakan yang diizinkan oleh syariat. Dosa besar yang dimaksud dalam hadits sebelumnya adalah jika dilakukan pada dubur (tempat pembuangan kotoran).

Peristiwa Isra dan Mikraj

Pembahasan kemudian berpindah pada hadits-hadits yang berkaitan dengan kisah Isra dan Mikraj yang cukup panjang. Peristiwa ini merupakan sebuah keajaiban besar. Sebagai umat beriman, kita bersyukur telah meyakini kebenaran kisah perjalanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini.

Pada awal kejadiannya, orang-orang kafir Quraisy melakukan intimidasi dan penghinaan terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka bahkan berusaha mendesak Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu agar meragukan kebenaran berita tersebut. 

Ketika kaum kafir Quraisy mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan peristiwa Isra Mi’raj bahwa dalam satu malam beliau telah sampai ke Baitul Maqdis di Palestina, kemudian naik ke langit, lalu kembali lagi ke Makkah mereka menertawakannya. Mereka ingin menguji apakah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang dikenal memiliki akal sehat dan pemikiran cemerlang mau menerima hal yang berada di luar naluri manusia biasa tersebut.

Namun, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu menegaskan bahwa jika Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakannya, maka beliau mempercayainya. Beliau menyatakan bahwa jika wahyu dari langit saja dipercaya, maka peristiwa Isra Mi’raj bukanlah hal yang sulit untuk diterima. Di zaman sekarang, seseorang mungkin cenderung mengingkari informasi yang di luar nalar, terutama jika mayoritas orang tidak mempercayainya. Namun, Abu Bakar mengajarkan bahwa keimanan tidak bergantung pada pendapat mayoritas, melainkan pada kebenaran pembawa beritanya. Kini, seluruh kaum muslimin sepakat bahwa peristiwa tersebut adalah hak dan nyata.

Perjalanan Menuju Baitul Maqdis Dengan Buraq

Dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengisahkan awal perjalanan beliau:

أتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ 

“Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan tunggangan yang putih dan panjang, ukurannya lebih tinggi dari keledai namun lebih rendah dari bagal. Ia meletakkan langkah kakinya sejauh mata memandang.

Kecepatan buraq sangat luar biasa karena setiap langkahnya mencapai batas terjauh pandangan mata. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menungganginya hingga sampai di Baitul Maqdis, Palestina. Setibanya di sana, beliau mengikat kendaraan tersebut pada lingkaran besi di pintu masjid, tempat yang biasa digunakan oleh para nabi terdahulu untuk mengikat tunggangan mereka. Kemudian, beliau masuk ke dalam masjid dan melaksanakan shalat dua rakaat.

Setelah keluar dari masjid, Malaikat Jibril  ‘Alaihis Salam mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan membawa dua wadah, yang satu berisi khamar dan yang lainnya berisi susu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memilih wadah yang berisi susu. Melihat hal itu, Jibril  ‘Alaihis Salam berkata:

هُدِيتَ لِلْفِطْرَةِ

“Engkau telah memilih fitrah.”

Fitrah adalah naluri manusia yang masih bersih dan suci. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjelaskan bahwa setiap bayi dilahirkan di atas fitrah:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dia lahir di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Susu menjadi lambang kebersihan dan kesehatan, berbeda dengan khamar yang memabukkan dan berbahaya. Pilihan beliau merupakan isyarat keistiqamahan dan nilai-nilai Islam yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi manusia. Sebagaimana firman-Nya:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum[30]: 30)

Sebelum memulai perjalanan agung ini, dalam beberapa riwayat disebutkan pula bahwa dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terlebih dahulu dibelah untuk dibersihkan hatinya sebagai persiapan menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebelum memulai perjalanan menembus langit, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terlebih dahulu mengalami penyucian jiwa. Jantung atau hati beliau dicuci bersih menggunakan air zamzam sebagai persiapan ruhani. Setelah itu, beliau bersama Malaikat Jibril  ‘Alaihis Salam naik menuju langit pertama.

Setibanya di sana, Jibril  ‘Alaihis Salam meminta izin agar pintu langit dibuka. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tingkatan langit memiliki pintu serta penjaga, sehingga tidak sembarang makhluk dapat melintasinya. Terjadi percakapan antara penjaga langit dengan Jibril  ‘Alaihis Salam mengenai siapa yang datang dan apakah sosok tersebut telah diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk naik. Setelah dipastikan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkannya, pintu langit pertama pun dibuka.

Di langit dunia tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Adam  ‘Alaihis Salam. Beliau menyambut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penuh kehangatan dan mendoakan kebaikan. Dalam sebuah riwayat, Nabi Adam  ‘Alaihis Salam berkata:

مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالِابْنِ الصَّالِحِ

“Selamat datang nabi yang saleh dan anak yang saleh.” (HR. Bukhari)

Pertemuan Di Langit Kedua Dan Ketiga

Perjalanan berlanjut ke langit kedua. Melalui prosedur perizinan yang sama, pintu langit dibuka dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakaria  ‘Alaihis Salam dan Nabi Isa bin Maryam  ‘Alaihis Salam. Keduanya merupakan sepupu dari garis ibu. Ibunda Nabi Isa, yakni Maryam binti Imran, merupakan saudara dari ibunda Nabi Yahya. Kedua nabi ini menyambut beliau dengan doa kebaikan dan menyapa:

مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ 

“Selamat datang saudara yang saleh.” (HR. Muslim)

Selanjutnya, di langit ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Yusuf  ‘Alaihis Salam. Beliau menggambarkan bahwa Nabi Yusuf  ‘Alaihis Salam dianugerahi ketampanan yang luar biasa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَإِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Ternyata beliau telah dianugerahi separuh ketampanan (seluruh dunia).” (HR. Muslim)

Kisah Nabi Yusuf  ‘Alaihis Salam merupakan teladan nyata mengenai keteguhan iman seorang pemuda. Meskipun beliau memiliki ketampanan yang luar biasa, berada jauh dari pengawasan orang tua, dan diajak berzina oleh wanita bangsawan yang cantik serta kaya, beliau tetap teguh menolak. Tantangan tersebut semakin berat karena suami dari wanita itu tidak memiliki rasa cemburu yang kuat. Namun, Nabi Yusuf  ‘Alaihis Salam lebih memilih dipenjara daripada harus bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdoa:

رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (QS. Yusuf[12]: 33)

Kisah ini menjadi pengingat bagi generasi muda di akhir zaman. Saat ini, fitnah perzinahan semakin terbuka dan mudah diakses, seolah-olah norma kesucian telah pudar. Keteladanan Nabi Yusuf  ‘Alaihis Salam mengajarkan bahwa seorang mukmin harus selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam kondisi apa pun.

Lihat juga: Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam

Perjalanan Menuju Langit Keempat Hingga Keenam

Setelah meninggalkan langit ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibawa naik menuju langit keempat. Melalui prosedur perizinan yang sama antara Malaikat Jibril  ‘Alaihis Salam dan penjaga langit, pintu pun dibuka. Di sana, beliau bertemu dengan Nabi Idris  ‘Alaihis Salam yang menyambut dengan ucapan, “Selamat datang saudara yang saleh,” serta mendoakan kebaikan. Hal ini mengingatkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai kedudukan beliau:

وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

“Dan aku tinggikan derajat Nabi Idris dengan tempat yang tinggi.” (QS. Maryam[19]: 56)

Perjalanan berlanjut ke langit kelima. Setelah pintu dibuka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Harun  ‘Alaihis Salam. Beliau disambut dan didoakan dengan kebaikan. Pertemuan para nabi ini menunjukkan tradisi mulia di kalangan orang-orang saleh yang senantiasa saling mendoakan saat bertemu, bukan sekedar bertanya kabar, melainkan memohonkan perlindungan dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di langit keenam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Musa  ‘Alaihis Salam. Pertemuan ini menjadi sangat penting karena pengalaman dan perhatian besar Nabi Musa terhadap umat manusia. Dalam sebuah riwayat, Nabi Musa sempat menangis saat melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik melampaui derajatnya. Beliau merasa kagum sekaligus haru karena ada nabi yang jauh lebih muda darinya, namun memiliki derajat yang lebih tinggi dan jumlah pengikut yang lebih banyak. Nabi Musa sendiri merupakan nabi dengan jumlah pengikut terbanyak kedua setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meskipun beliau harus menghadapi watak Bani Israil yang sangat sulit diatur.

Pertemuan Dengan Nabi Ibrahim Di Langit Ketujuh

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian naik ke langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim  ‘Alaihis Salam, yang dijuluki sebagai Abul Anbiya (Ayah Para Nabi). Nasab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersambung kepada beliau melalui jalur Nabi Ismail  ‘Alaihis Salam. Hal ini berbeda dengan Nabi Yusuf  ‘Alaihis Salam yang nasabnya bersambung melalui jalur Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, hingga Nabi Ibrahim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat Nabi Ibrahim sedang bersandar pada Baitul Makmur.

مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

“Beliau menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur.” (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa posisi bersandar ini menunjukkan bahwa beliau telah selesai dari segala kewajiban ibadah di dunia dan kini beristirahat dengan tenang di tempat yang mulia tersebut.

Baitul Makmur merupakan tempat ibadah penduduk langit yang kemuliaannya sangat besar. Setiap hari, tempat tersebut dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah, dan mereka yang telah keluar tidak akan pernah kembali lagi ke sana karena antrian makhluk yang sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ

“Ternyata Baitul Makmur itu setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang (setelah keluar) tidak kembali lagi kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kenyataan ini memberikan gambaran betapa banyaknya jumlah malaikat ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Langit seolah mengeluarkan suara merengek-rengek karena saking padatnya penghuni yang memenuhi setiap jengkal ruangnya. Tidak ada satu ruang sekecil apa pun di langit kecuali di sana terdapat malaikat yang sedang bersujud atau beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Langit dihuni oleh malaikat dalam jumlah yang sangat banyak. Di antara mereka ada yang bertugas membawa Arsy, senantiasa bertasbih, menjaga gunung, serta mengatur urusan alam lainnya. Malaikat adalah makhluk yang sama sekali tidak pernah membangkang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka melaksanakan seluruh tugas dengan sempurna sesuai firman-Nya:

لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)

Setiap hari terdapat 70.000 malaikat yang beribadah di Baitul Makmur dan mereka yang telah keluar tidak akan pernah kembali lagi ke sana. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Sidratul Muntaha, sebuah pohon luar biasa yang akar dan puncaknya berjauhan serta memiliki keindahan yang tak terlukiskan. Tempat ini merupakan titik akhir kemampuan para malaikat untuk naik.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggambarkan keagungan ciptaan tersebut:

فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ، وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَة 

“Ternyata buahnya seperti tempayan besar dari daerah Hajar dan daun-daunnya seperti telinga gajah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi pohon tersebut, daun dan buahnya berubah menjadi sangat indah. Tidak ada satupun makhluk Allah yang mampu melukiskan keindahannya secara sempurna. Hal ini menunjukkan betapa luar biasanya keindahan akhirat yang telah Allah siapkan:

مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Bukhari)

Lihat juga: Keindahan Surga

Perintah Shalat Dan Peringatan Nabi Musa  ‘Alaihis Salam

Di Sidratul Muntaha, Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan perintah-Nya secara langsung. Pada awalnya, Allah mewajibkan 50 waktu shalat dalam sehari semalam bagi umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setelah menerima perintah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam turun dan bertemu kembali dengan Nabi Musa  ‘Alaihis Salam di langit keenam.

Nabi Musa  ‘Alaihis Salam bertanya mengenai kewajiban yang diberikan Allah kepada umat beliau. Setelah mendengar bahwa Allah mewajibkan 50 waktu shalat, Nabi Musa  ‘Alaihis Salam memberikan masukan berdasarkan pengalamannya menghadapi Bani Israil. Beliau berkata:

ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ

“Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu memikul hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Musa  ‘Alaihis Salam menjelaskan bahwa beliau telah berusaha memotivasi Bani Israil untuk melaksanakan ibadah yang lebih ringan dari itu, namun banyak di antara mereka yang gagal. Beliau mengingatkan bahwa fisik, hati, pendengaran, dan penglihatan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih lemah.

Proses Keringanan Shalat Hingga Lima Waktu

Mendengar saran tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menoleh kepada Malaikat Jibril  ‘Alaihis Salam seperti meminta pendapat. Setelah Jibril  ‘Alaihis Salam menyetujui, beliau kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memohon keringanan. Proses ini terjadi berulang kali; jumlah shalat dikurangi secara bertahap mulai dari sepuluh hingga akhirnya tersisa lima waktu shalat.

Meskipun sudah mencapai lima waktu, Nabi Musa  ‘Alaihis Salam tetap menyarankan agar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali meminta keringanan. Beliau menegaskan bahwa Bani Israil pun banyak yang meninggalkan ibadah meski bebannya lebih sedikit dari lima waktu shalat tersebut. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa malu untuk terus meminta keringanan setelah berkali-kali menghadap. Akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa lima waktu shalat tersebut memiliki nilai pahala yang setara dengan lima puluh waktu shalat.

Ketetapan Lima Waktu shalat Dan Kemurahan Allah

Setelah berulang kali kembali menghadap Allah ‘Azza wa Jalla untuk meminta keringanan atas saran Nabi Musa  ‘Alaihis Salam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akhirnya menerima ketetapan akhir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً

“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah lima shalat setiap hari dan malam. Setiap shalat (pahalanya) sepuluh, maka itu (setara dengan) lima puluh shalat.” (HR. Muslim)

Inilah bentuk kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla bagi umat ini. Syariatnya diringankan menjadi lima waktu agar tidak memberatkan, namun pahalanya tidak dikurangi sedikitpun, yakni tetap setara dengan lima puluh waktu karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.

Selain itu, keistimewaan umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terletak pada penilaian niat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan:

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا… وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Barang siapa berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, maka ditulis sepuluh kebaikan. Barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis dosa apa pun. Jika ia mengerjakannya, maka ditulis satu keburukan.” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan bahwa niat buruk yang diurungkan hanya berbuah pahala jika alasan pembatalannya adalah karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika seseorang batal melakukan maksiat hanya karena tidak mampu atau takut ketahuan manusia seperti pencuri yang urung melompat pagar karena melihat ada ronda ia tidak mendapatkan pahala, bahkan tetap menanggung dosa atas upaya dan langkah kemaksiatan yang telah ia ambil.

Rasa Malu Rasulullah Dan Hakikat Kepatuhan

Setelah menerima ketetapan lima waktu shalat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali menemui Nabi Musa  ‘Alaihis Salam. Saat disarankan untuk kembali meminta keringanan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ 

“Aku Sudah bolak-balik sampai aku malu sudah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejadian Isra dan Mikraj ini adalah hak yang bersumber dari dalil shahih. Umat Islam hendaknya berhati-hati terhadap kisah-kisah tanpa sumber yang sering menghiasi pengajian, seperti dongeng tentang wanita yang rindu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga berubah menjadi Buraq. Fokus utama dari peristiwa ini adalah perintah shalat.

Seseorang yang menerima surat perintah dari atasan namun hanya memajang dan mengharumkan surat tersebut tanpa melaksanakan isinya adalah tindakan yang tidak bermanfaat. Demikian pula gambaran orang yang merayakan peringatan Isra Mi’raj dengan meriah namun justru meninggalkan shalat. Sangat disayangkan jika demi sebuah perayaan, seseorang mengabaikan shalat Isya berjamaah atau meninggalkan shalat Subuh karena kelelahan setelah acara yang berlangsung hingga larut malam. Menjadi panitia perayaan perintah shalat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan shalat itu sendiri. Hilangnya tujuan utama dan kesibukan pada hal-hal yang bukan inti ibadah adalah sebuah kekeliruan yang nyata.

Penampakan Surga dan Neraka

Hadits berikutnya memiliki kaitan erat dengan peristiwa Isra dan Mikraj. Dalam hadits ke-128 yang diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Al-Maqdisi dengan sanad hasan dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu, terdapat tambahan keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperlihatkan wujud surga beserta keindahannya, serta neraka beserta kengeriannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya sekali diperlihatkan pemandangan tersebut. Pernah dalam sebuah shalat, beliau melihat neraka hingga hampir mundur karena merasa panas apinya menyambar. Beliau bersabda:

فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ أَفْظَعَ

“Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada pemandangan hari ini.” (HR. Muslim)

Sebaliknya, terkadang beliau juga melakukan gerakan seolah ingin meraih tangkai buah saat sedang shalat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkan buah-buahan yang tumbuh di dalam surga.

Hukuman bagi Orator yang Tidak Mengamalkan Ilmu

Hadits ke-129 bersumber dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, serta terdapat dalam Musnad Imam Ahmad dan Abu Ya’la. Pada malam Isra dan Mikraj, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperlihatkan sekelompok orang yang bibirnya disobek menggunakan alat yang terbuat dari api. Setiap kali bagian tersebut hancur, bibir mereka kembali utuh untuk kemudian disobek kembali. Jibril  ‘Alaihis Salam menjelaskan identitas mereka:

خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَقْرَؤُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَلَا يَعْمَلُونَ بِهِ

“Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, dan mereka membaca Kitabullah namun tidak mengamalkannya.” (HR. Ahmad)

Kenyataan ini menjadi peringatan keras bagi para orator dan dai. Meskipun kemampuan berbicara di depan umum dapat dipelajari, hal yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran tanggung jawab pribadi untuk menyelaraskan ucapan dengan perbuatan. Seorang muslim harus memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, baik dalam ibadah, penjagaan akhlak, maupun pengamalan isi Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah[2]: 44)

Pembersihan Dada Rasulullah dengan Air Zamzam

Hadits ke-130 bersumber dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dalam Shahih Muslim mengenai peristiwa sebelum perjalanan Isra dan Mikraj dimulai. Jibril  ‘Alaihis Salam membawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke sumur zamzam untuk menjalani pensucian fisik dan rohani.

Dada beliau dibelah dari bagian atas leher hingga bagian bawah pusar. Dalam peristiwa tersebut, salah satu bagian hati beliau dikeluarkan seraya dikatakan bahwa bagian itulah tempat gangguan setan. Dengan demikian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijaga oleh Allah ‘Azza wa Jalla sehingga setan tidak lagi memiliki jalan untuk menggoda beliau. Setelah dibersihkan dengan air zamzam, hati tersebut dikembalikan ke tempat semula. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa Jibril  ‘Alaihis Salam membawa sebuah wadah emas untuk menyempurnakan proses tersebut:

ثُمَّ جَاءَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءٍ حِكْمَةً وَإِيمَانًا

“Kemudian didatangkan bejana emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman.” (HR. Bukhari)

Isi dari bejana tersebut kemudian dituangkan ke dalam dada beliau, sehingga jiwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dipenuhi dengan hikmah dan keimanan yang kokoh sebelum memulai perjalanan sakral tersebut. Peristiwa ini merupakan bagian dari aqidah orang beriman sebagai bukti kepercayaan kepada kebenaran risalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pesan inti dari seluruh rangkaian kejadian ini adalah pentingnya menjaga shalat. Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56060-hadits-peristiwa-isra-dan-mikraj/